MY MIND

Pembunuhan Atas Nama Teman

“Kita kan teman nih, kasih harga spesial dong buat aku.”

“Yaaah.. jangan segitu dong. Kurangin dong, kan kita teman.”

Kamu punya usaha jual barang atau jasa? Pernah mengalami permintaan seperti di atas? Atau ternyata kalian ada pelaku yang mengucapkan dialog tersebut?

Saya sedih sih, atas nama pertemenan banyak orang justru tanpa sadar ‘membunuh’ temannya sendiri. Meminta harga lebih murah kepada teman itu menurut saya kejam. Apalagi dengan dalih “kita kan teman”.

Prilaku kayak gitu membunuh usaha teman kalian sebenarnya. Apalagi kalau usahanya kecil dan baru tumbuh. Memulai usaha itu nggak gampang, belum lagi ternyata selisih untung yang didapat nggak banyak. Lalu kita minta murah atas dasar teman. Sungguh kejam.

Jika memang atas dasar pertemanan dan solidaritas, harusnya logika itu dibalik. Kita yang support teman dengan usahanya baik dia jualan barang atau jasa.

Saya nggak asal ngomong, karena saya sendiri udah lakuin dari dulu. Saya bahkan setiap satu bulan ada langganan di salah satu toko teman. Walau saya tau harganya agak lebih mahal dari yang lain. Tapi saya tetap belanja ke dia, meski hanya satu item.

Terkadang di situlah si teman merasa dia dihargai. Karena kita teman, belanja atau menggunakan jasa teman kita jadi tau kelemahan dia dan apa yang harus diperbaiki. Karena kita lebih dekat, saran kita pun lebih mudah diterima. Ada hubungan emosional pertemanan yang terjalin di sana.

Kadang sih suka marah kalau dikontak sama orang-orang yang suka minta harga teman ini. Udahlah munculnya pas butuh, mintanya pas murah.

Saya yang bergerak di bidang jasa lebih mending berurusan sama orang yang terbuka. “Saya punya budgetnya cuma segini, tapi saya butuh bantuannya.” Kalau yang begini mah pasti dibantuin.

“Men, aku cuma adanya segini, gimana dong?” Ya udah lanjut aja. Saya nggak masalah kalau begini.

Yang paling menyebalkan itu udah minta harga murah, terus banyak mintanya, sama terakhir kita dimarahin. Nah, yang begini rasanya pengen di kamehameha-in.

Dalam kultur usaha sih saya berharap harusnya logikanya mulai dibalik dalam pertemenan. Bukan kita yang meminta ke teman, tapi kita yang memberi. Toh, ketika kita memberi bakal dapat lebih. Kalau nggak dari si teman tadi, bisa dari yang lain.

Leave a Reply